Peringati HUT RI Ke-78, Jemaat GKE Palangka Sion Potong Nasi Tumpeng

Gereja Kalimantan Evangelis ( GKE ) Palangka Sion merayakan HUT RI Ke-78 dengan cara potong nasi tumpeng. (foto/Hendra)
PALANGKA RAYA, SUMBERHIDUP – Gereja Kalimantan Evangelis ( GKE ) Palangka Sion pada hari Minggu ( 20/08/2023), melaksanakan ibadah hari Minggu, namun tidak seperti Ibadah biasanya. Kali ini diakhir ibadah pendeta, para Penetua dan Diakon bersama seluruh jemaat merayakan HUT RI Ke-78 yang diawali dengan potong nasi tumpeng.
Kegiatan dimulai dengan Ibadah Minggu sampai selesai baru dilakukan pemotongan nasi tumpeng sebagai wujud ucapan syukur Gereja dan jemaat atas kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah menginjak usia ke-78. Kegiatan juga bersamaan dengan Hari Remaja GKE. Minggu ( 20/08/2028).
Tidak itu saja ibadah yang dipimpin oleh pendeta Ayang Setiawan,M.Th tersebut mengajak jemaat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Lagu 17 Agustus Tahun 45, nampak para jemaat dan pengurus Lingkungan 1,2 dan 3 Sion Sangat antusias dan penuh semangat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Dalam khotbah minggunya Pdt Ayang Setiawan,M.Th yang juga ketua Majelis Palangka sakaligus ketua majelis resort Palangka Raya Tengah mengatakan bahwa kita harus bersyukur Tuhan telah bekerja dalam sejarah kemerdekaan dan mengajak para pemuda remaja terus meningkat pelayanan, persekutuan dan kesaksian.
” Kita harus bersyukur Karena Tuhan turut bekerja dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia dalam perjalanan berbangsa dan bernegara, yang terus ditapaki melalui Kebersamaan sebagai bangsa yang bersatu di usia yang ke-78 tahun ini dan mari para pemuda remaja untuk terus meningkatkan pelayanan dalam Ibadah dan persekutuan kesaksian ” tuturnya.
Sejarah telah lanjutnya membuktikan bagaimana kuatnya bangsa ini sehingga suka dan duka dilewati untuk teta memperkokoh Kebersamaan yang tidak akan pudar oleh peradaban.Ia juga menjelaskan dalam khotbahnya bahwa sebagai insan manusia kita harus bebas secara rohani dari penjajahan kuasa kegelapan dan setan.
” kemerdekaan Republik Indonesia sudah kita raih sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, tetapi Jangan sampai kita masih terjajah dalam rohani yang artinya kita terikat dengan tipu daya dari setan, contohnya setan tidak lagi tinggal di pohon atau gedung, rumah kosong karena semua sudah direhab diperbaiki dan ditempati manusia. Namun setan bisa tinggal didalam diri manusia, melalui teknologi ciptaan manusia, seperti hp, gadget, media sosial dan lain – lain yang mengakibatkan hubungan antar keluarga satu sama lain menjadi renggang” jelasnya.
Sebagai manusia yang merdeka Secara jasmani dan rohani yang sudah dimerdekakan oleh Kristus melalui karya penebusan dosa kita di kayu salib maka kita patut bersyukur kepada Allah dan taat kepada Allah, tidak mengikatkan diri dan harus mampu menguasai diri dari kebiasaan – kebiasaan yang buruk serta terpengaruh jauh kedalam kesesatan, memaknai kemerdekaan dengan hal-hal positif dan lebih kepada hal-hal yang bersifat rohani, kesaksian, persekutuan dan pelayanan.
Oleh sebab itu hidup hanya harus lebih mendekatkan diri kepada Allah, karena hanya Tuhan Yesus lah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup yang sejati, Yesus berfirman Sebab tidak seorangpun datang kepada Bapa Kalau tidak melalui Aku. ( hen)

